A.N.D.I.

(Ditulis pada pertemuan Senemu Writers’ Circle (eks-Reading Lights Writers’ Circle) tanggal 27 Agustus 2017 dengan tema “bertemu kawan lama.”)

Continue reading “A.N.D.I.”

Advertisements

Catatan Proyek Membuat Gambeson (3)

Catatan ini adalah lanjutan dari bagian 1 dan bagian 2. Pembaca baru sangat disarankan membaca artikel-artikel terdahulu tersebut.

Setelah bagian badan proyek percobaan gambeson ini selesai, langkah selanjutnya dalam percobaan ini adalah membuat bagian lengan. Pola dasar lengan diambil dari ukuran lubang/kerung lengan yang teramati pada bagian badan gambeson sebagai berikut.

Continue reading “Catatan Proyek Membuat Gambeson (3)”

Catatan Proyek Membuat Gambeson (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang percobaan menyusun tutorial pembuatan gambeson (pelindung badan) untuk latihan HEMA (Historical European Martial Arts, ilmu beladiri Eropa kuno).

Karena hasil percobaan bagian pertama sepertinya terlalu tipis, saya memikirkan berbagai cara yang mungkin digunakan untuk menghasilkan isian yang lebih padat dan kuat. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menambahkan tiga potong kaus oblong yang sudah tidak layak pakai, atau kurang lebih enam lapis kain rajut katun (karena tentu saja setiap helai kaus terdiri dari dua lapis yaitu bagian dada dan bagian punggung). Susunan lapisannya kurang-lebih seperti gambar di bawah ini:

Continue reading “Catatan Proyek Membuat Gambeson (2)”

Catatan Proyek Membuat Gambeson (1)

Salahsatu peralatan terpenting dalam kegiatan HEMA (Historical European Martial Arts, ilmu beladiri Eropa kuno) adalah pelindung tubuh bagian atas berupa jaket tebal dengan isian bahan pelapis untuk meredam dampak benturan senjata latihan. Sayangnya, kebanyakan model yang paling umum dipakai (misalnya jaket PBT atau SPES Axel Pettersson) tergolong mahal dan sulit didapat di Indonesia, jadi saya terdorong untuk menyusun semacam panduan membuat pelindung sederhana yang mudah ditiru/diikuti. Rancangan baju pelindung yang akan saya buat di sini mencampurkan unsur-unsur pakaian pelindung “gambeson” dari Abad Pertengahan dengan unsur-unsur rancangan busana modern untuk menyederhanakan proses pembuatan agar siapapun yang hendak menirunya tidak memerlukan peralatan yang terlalu rumit ataupun keahlian menjahit tingkat lanjut.

Continue reading “Catatan Proyek Membuat Gambeson (1)”

HEMA in Indonesia, February 2016-February 2017: A Year in Retrospect

I think it’s safe to say that 2016 was the year when HEMA (Historical European Martial Arts) went public in Indonesia. Of course I had been practicing it on an informal basis for many years before that, and there were several other “lone wolf” practitioners scattered all over the place. But everything changed when the Fire Nation attacked when a few of us kind of hijacked the networking potential of the local Tolkien society and founded a formal practice group in 2016.

(Warning: this is going to get long and rambly, and mostly written from my highly subjective personal perspective. The others might care to write their own stuff about how things look from their viewpoint.) Continue reading “HEMA in Indonesia, February 2016-February 2017: A Year in Retrospect”

“Keep Calm and Bakar Sate:” potret keberanian — atau kemiskinan?

Sudah setahun lewat sejak peristiwa bom Sarinah di awal tahun 2016. Sudah setahun pula sejak para pengguna media sosial di Indonesia mengelu-elukan seorang pedagang sate kaki lima bernama Pak Jamal karena beliau tetap berjualan sate walaupun ledakan bom dan tembakan senjata api berlangsung tak lebih dari satu-dua blok jauhnya. Memang keberanian Pak Jamal tak perlu diragukan lagi. Tapi saya rasa kita juga perlu melihat sisi lain dari kejadian ini — satu sisi yang hanya¬† disebut sepintas lalu dalam reportase media: Pak Jamal dan istrinya Heni berkata bahwa mereka takut meninggalkan gerobak dagangan mereka karena khawatir gerobak itu akan dicuri.

Coba pikirkan lagi. Mana sih yang lebih penting: nyawa atau gerobak dagangan? Orang waras pasti tak akan ragu-ragu meninggalkan dagangan untuk menyelamatkan diri — kecuali jika penghidupan dan mata pencahariannya memang bergantung sepenuhnya pada barang dagangan tersebut. Jika satu-satunya harapan untuk mencari penghasilan yang halal tertumpu pada gerobak sate dan seisinya.

Pikirkanlah juga tentang kemiskinan yang meluas di Jakarta. Toh itulah alasan mengapa Pak Jamal dan Bu Heni sampai khawatir bahwa orang lain mungkin begitu miskin dan begitu nekatnya sampai ingin mencuri gerobak dan dagangan sate yang tidak diawasi oleh pemiliknya.

Pada akhirnya sih saya hanya ingin mengingatkan teman-teman sekelas dan segolongan, teman-teman sesama kelas menengah ngehe (termasuk diri saya sendiri). Kita sudah mengambil keuntungan, lho, dari keberanian Pak Jamal dan Bu Heni. Paling tidak kita sudah memajang foto mereka dan membuat meme untuk menggembar-gemborkan keberanian kita sendiri melawan terorisme, padahal nyatanya sebagian besar dari kita tidak berada di TKP sewaktu kejadian bom Sarinah, apalagi ikut menanggung bahaya. Mungkin sudah saatnya kita mulai berpikir tentang bagaimana kita bisa mengubah keadaan supaya Pak Jamal dan Bu Heni — beserta mayoritas rakyat Indonesia yang notabene masih relatif miskin — tak perlu ragu lagi meninggalkan dagangan mereka seandainya ada kejadian serupa di masa depan, karena mereka tak perlu lagi takut kehilangan penghidupan.

Keep Calm and Grill Satay : a picture of courage — or of economic desperation?

So. It’s been nearly a year since the terrorist attacks in Jakarta at the beginning of 2016. The one aspect that still sticks to my mind — apart from the attackers’ sheer wrongheadedness and tactical incompetence — is the way Indonesian social media users lionised Pak (Mr.) Jamal, a roadside satay vendor, for remaining with his cart rather than fleeing the scene when the attacks took place only a couple of blocks away. That part even got covered by international media. Of course, I’m not going to deny the satay vendor’s bravery. But personally I find it more important to draw attention to one fact that most media outlets either skipped outright or just mentioned in passing (that one is in Indonesian since I can’t find any English-language coverage that even mentions it at all): Mr. Jamal and his wife Heni said they didn’t abandon their cart because they were afraid that it would be stolen.

Think about that for a minute. What right-thinking people would not abandon their business in order to save their lives, unless they had no other means to maintain their livelihood afterwards? Unless their entire hope of making an honest living, however precarious, lay with that cart and its contents?

Think, too, of the general state of urban poverty in Jakarta — the same widespread poverty that prompted the couple’s legitimate fears that somebody else might be poor enough and desperate enough to steal their cart and their wares if they hadn’t kept a vigilant eye upon them.

I guess at the end of the day this is a call for reflection directed at my own middle-class, Western-educated Indonesian cohorts. We’ve already benefited from the satay vendors’ economic desperation by appropriating it as a way to boast about our courage in the face of terrorism even though most of us weren’t even there and were never in real danger. But Mr. Jamal and Mrs. Heni aren’t just abstract symbols. They’re real people with a real need to eke out a real livelihood. So what have we given them in return? And what can still we do to improve their livelihood — and that of the rest of the underprivileged majority — to the extent that they would feel comfortable with abandoning their economic assets in favour of saving their life and limb should a similar event happen in the future?