Catatan Proyek Membuat Gambeson (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang percobaan menyusun tutorial pembuatan gambeson (pelindung badan) untuk latihan HEMA (Historical European Martial Arts, ilmu beladiri Eropa kuno).

Karena hasil percobaan bagian pertama sepertinya terlalu tipis, saya memikirkan berbagai cara yang mungkin digunakan untuk menghasilkan isian yang lebih padat dan kuat. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menambahkan tiga potong kaus oblong yang sudah tidak layak pakai, atau kurang lebih enam lapis kain rajut katun (karena tentu saja setiap helai kaus terdiri dari dua lapis yaitu bagian dada dan bagian punggung). Susunan lapisannya kurang-lebih seperti gambar di bawah ini:

gblayer1

Seperti biasa, hasil nyatanya dengan kain sungguhan tak serapi itu.

gamb4

Sehubungan dengan penjelasan tentang lapisan-lapisan di atas, saya teringat bahwa catatan bagian pertama memunculkan pertanyaan tentang jenis tusuk jahitan yang digunakan untuk menyatukan dan memampatkan lapisan-lapisan tersebut. Tusuk yang saya gunakan disebut saddle stitch dalam bahasa Inggris, tetapi sayangnya saya tidak mengetahui namanya dalam bahasa Indonesia. Jenis tusuk ini umumnya menggunakan dua jarum, masing-masing satu di setiap ujung benang. Gambaran kasarnya seperti berikut:

gblayer2

Saya membeli bahan isian serat dakron untuk percobaan potongan kedua ini di tempat yang berbeda dari tempat saya membeli bahan dakron untuk potongan pertama (isian bagian pertama dibeli di ACE Hardware sementara isian bagian kedua ini dibeli di Borma), dan ternyata bahan isian yang dijual di kedua tempat tersebut berbeda pula; isian dakron yang saya beli di Borma terasa lebih padat dan lebih berat daripada isian yang sebelumnya saya dapat di ACE. Jadi berhati-hatilah karena perhitungan berat & jumlah lapisan yang terasa benar dengan satu jenis isian belum tentu cocok dengan isian lain yang serupa tetapi dibeli di tempat yang berbeda!

Singkat kata, dengan isian dakron yang lebih padat ini, beserta berat dan ketebalan ketiga lembar kaus bekas yang saya tambahkan, hasil gambeson potongan kedua ini jauh lebih berat dan lebih kokoh daripada potongan pertama. Perbedaannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini; potongan baru tampak di bawah sementara potongan lama dari bagian pertama tutorial ini ditampilkan di atasnya.

gamb7

Menurut saya hasil percobaan bagian kedua ini bahkan terlalu tebal dan padat. Sepertinya ketebalan ideal untuk bagian badan gambeson terletak di antara kedua susunan lapisan yang telah saya coba sejauh ini.

Tentu saja itu bukan berarti saya begitu saja membuang kedua potongan yang telah saya buat dengan susah-payah karena keduanya tidak memiliki berat dan ketebalan yang ideal. Dalam menggabungkan kedua potongan ini menjadi pelindung badan lengkap, saya menggunakan potongan kedua (yang lebih tebal) sebagai pelindung bagian depan/dada sementara potongan pertama (yang lebih tipis) menjadi bagian belakang/punggung.

Ada dua kesimpulan utama yang dapat saya tarik dari foto-foto di atas:

  1. Ukuran yang saya perkirakan pada bagian pertama terlalu lebar sedikit dari sisi ke sisi tetapi terlalu pendek dari atas ke bawah. Potongan yang terlalu lebar sedikit menghambat kebebasan gerak lengan saya (walaupun hambatan gerakan ini tidak terlalu parah ataupun mengganggu), sementara panjang potongan yang sekilas tampak terlalu pendek mungkin tak begitu bermasalah karena potongan yang terlalu panjang akan membuat saya kesulitan menggerakkan batang tubuh dan/atau menurunkan pinggul dengan membengkokkan kaki.
  2. Bukaan leher sedikit terlalu lebar tetapi kedalamannya nampak kurang-lebih tepat. Ini berarti saya perlu mengisi celah yang terbuka di leher dengan kerah yang lumayan lebar dan/atau mengenakan pelindung tenggorokan (gorget) di bawah gambeson ini.

Pada bagian berikutnya kemungkinan besar saya akan mencoba dua jenis pola lengan yang berbeda.

Catatan Proyek Membuat Gambeson (1)

Salahsatu peralatan terpenting dalam kegiatan HEMA (Historical European Martial Arts, ilmu beladiri Eropa kuno) adalah pelindung tubuh bagian atas berupa jaket tebal dengan isian bahan pelapis untuk meredam dampak benturan senjata latihan. Sayangnya, kebanyakan model yang paling umum dipakai (misalnya jaket PBT atau SPES Axel Pettersson) tergolong mahal dan sulit didapat di Indonesia, jadi saya terdorong untuk menyusun semacam panduan membuat pelindung sederhana yang mudah ditiru/diikuti. Rancangan baju pelindung yang akan saya buat di sini mencampurkan unsur-unsur pakaian pelindung “gambeson” dari Abad Pertengahan dengan unsur-unsur rancangan busana modern untuk menyederhanakan proses pembuatan agar siapapun yang hendak menirunya tidak memerlukan peralatan yang terlalu rumit ataupun keahlian menjahit tingkat lanjut.

Urusan pertama tentu saja adalah masalah ukuran. Lingkar dada/punggung atas saya kurang-lebih sekitar 92cm, yang berarti saya memerlukan lingkar baju minimal 100-104cm untuk pakaian yang dapat dikenakan seperti kaus oblong (tidak memerlukan kancing atau alat penutup lainnya), atau kurang-lebih 50-52cm per sisi (depan dan belakang). Ditambah sekitar 2-3cm untuk setiap kampuh, hasilnya adalah 54-58cm per sisi. Saya juga perlu menambahkan ukuran untuk memperhitungkan ketebalan lapisan-lapisan baju beserta bahan isiannya; perhitungan ini memerlukan percobaan langsung dengan bahan-bahan yang akan dipakai, sehingga saya belum memiliki datanya di awal proyek. Untungnya, saya telah membeli kain sepanjang 2m, sehingga saya bisa “curang” sedikit dengan membagi tiga panjang kain untuk mendapatkan potongan persegi dengan sisi sepanjang 66 atau 67cm.

Bahan isian yang saya coba kali ini adalah serat dacron yang biasanya dijual sebagai bahan penyaring (filter) air akuarium. Serat ini biasanya dijual dalam bentuk lembaran 1m x 1m, jadi saya menggunakan ukuran-ukuran yang telah dijabarkan di atas untuk memotongnya sesuai diagram berikut.

gambes0

Kemudian disusun sebagai berikut:

gambes1

Tentu saja hasilnya dengan bahan-bahan sungguhan tidak serapi itu:

gamb0

Tiga lapis lembaran dacron rasanya masih terlalu tipis untuk mendapat perlindungan yang memadai, jadi saya memutuskan untuk menggunakan dua lembaran 1m x 1m yang dipotong dan disusun sesuai diagram di atas. Bagian-bagian tertebal diisi enam lapis lembaran dacron sementara dua bagian tipis di pojok-pojok atas hanya mendapat dua lapis. Walaupun enam lapis nampaknya begitu tebal, pada nyatanya lapisan-lapisan tersebut dapat dimampatkan hingga mencapai ketebalan kurang dari 1cm dengan jahitan yang cukup rapat.

gamb1

Dalam prosesnya, beberapa bagian (terutama bagian-bagian tipis yang hanya mendapat 2 lapis isian) dipotong untuk mendapatkan bentuk akhir yang lebih rapi dan mudah dikenakan. Bagian-bagian yang dibuang ini ditandai dengan arsiran pada gambar di bawah.

gambes2

gamb2

Hasil akhirnya tidak mengecewakan, walaupun mungkin masih agak terlalu tipis untuk mendapatkan perlindungan yang memadai.

gamb3.jpg

Dalam tahap berikutnya saya akan meneruskan percobaan untuk mendapatkan susunan bahan isian yang lebih kokoh dan tepat guna sebagai alat pelindung latihan beladiri pedang.

Bagian berikutnya: Catatan Proyek Membuat Gambeson (2)

 

HEMA in Indonesia, February 2016-February 2017: A Year in Retrospect

I think it’s safe to say that 2016 was the year when HEMA (Historical European Martial Arts) went public in Indonesia. Of course I had been practicing it on an informal basis for many years before that, and there were several other “lone wolf” practitioners scattered all over the place. But everything changed when the Fire Nation attacked when a few of us kind of hijacked the networking potential of the local Tolkien society and founded a formal practice group in 2016.

(Warning: this is going to get long and rambly, and mostly written from my highly subjective personal perspective. The others might care to write their own stuff about how things look from their viewpoint.) Continue reading “HEMA in Indonesia, February 2016-February 2017: A Year in Retrospect”

“Keep Calm and Bakar Sate:” potret keberanian — atau kemiskinan?

Sudah setahun lewat sejak peristiwa bom Sarinah di awal tahun 2016. Sudah setahun pula sejak para pengguna media sosial di Indonesia mengelu-elukan seorang pedagang sate kaki lima bernama Pak Jamal karena beliau tetap berjualan sate walaupun ledakan bom dan tembakan senjata api berlangsung tak lebih dari satu-dua blok jauhnya. Memang keberanian Pak Jamal tak perlu diragukan lagi. Tapi saya rasa kita juga perlu melihat sisi lain dari kejadian ini — satu sisi yang hanya¬† disebut sepintas lalu dalam reportase media: Pak Jamal dan istrinya Heni berkata bahwa mereka takut meninggalkan gerobak dagangan mereka karena khawatir gerobak itu akan dicuri.

Coba pikirkan lagi. Mana sih yang lebih penting: nyawa atau gerobak dagangan? Orang waras pasti tak akan ragu-ragu meninggalkan dagangan untuk menyelamatkan diri — kecuali jika penghidupan dan mata pencahariannya memang bergantung sepenuhnya pada barang dagangan tersebut. Jika satu-satunya harapan untuk mencari penghasilan yang halal tertumpu pada gerobak sate dan seisinya.

Pikirkanlah juga tentang kemiskinan yang meluas di Jakarta. Toh itulah alasan mengapa Pak Jamal dan Bu Heni sampai khawatir bahwa orang lain mungkin begitu miskin dan begitu nekatnya sampai ingin mencuri gerobak dan dagangan sate yang tidak diawasi oleh pemiliknya.

Pada akhirnya sih saya hanya ingin mengingatkan teman-teman sekelas dan segolongan, teman-teman sesama kelas menengah ngehe (termasuk diri saya sendiri). Kita sudah mengambil keuntungan, lho, dari keberanian Pak Jamal dan Bu Heni. Paling tidak kita sudah memajang foto mereka dan membuat meme untuk menggembar-gemborkan keberanian kita sendiri melawan terorisme, padahal nyatanya sebagian besar dari kita tidak berada di TKP sewaktu kejadian bom Sarinah, apalagi ikut menanggung bahaya. Mungkin sudah saatnya kita mulai berpikir tentang bagaimana kita bisa mengubah keadaan supaya Pak Jamal dan Bu Heni — beserta mayoritas rakyat Indonesia yang notabene masih relatif miskin — tak perlu ragu lagi meninggalkan dagangan mereka seandainya ada kejadian serupa di masa depan, karena mereka tak perlu lagi takut kehilangan penghidupan.

Keep Calm and Grill Satay : a picture of courage — or of economic desperation?

So. It’s been nearly a year since the terrorist attacks in Jakarta at the beginning of 2016. The one aspect that still sticks to my mind — apart from the attackers’ sheer wrongheadedness and tactical incompetence — is the way Indonesian social media users lionised Pak (Mr.) Jamal, a roadside satay vendor, for remaining with his cart rather than fleeing the scene when the attacks took place only a couple of blocks away. That part even got covered by international media. Of course, I’m not going to deny the satay vendor’s bravery. But personally I find it more important to draw attention to one fact that most media outlets either skipped outright or just mentioned in passing (that one is in Indonesian since I can’t find any English-language coverage that even mentions it at all): Mr. Jamal and his wife Heni said they didn’t abandon their cart because they were afraid that it would be stolen.

Think about that for a minute. What right-thinking people would not abandon their business in order to save their lives, unless they had no other means to maintain their livelihood afterwards? Unless their entire hope of making an honest living, however precarious, lay with that cart and its contents?

Think, too, of the general state of urban poverty in Jakarta — the same widespread poverty that prompted the couple’s legitimate fears that somebody else might be poor enough and desperate enough to steal their cart and their wares if they hadn’t kept a vigilant eye upon them.

I guess at the end of the day this is a call for reflection directed at my own middle-class, Western-educated Indonesian cohorts. We’ve already benefited from the satay vendors’ economic desperation by appropriating it as a way to boast about our courage in the face of terrorism even though most of us weren’t even there and were never in real danger. But Mr. Jamal and Mrs. Heni aren’t just abstract symbols. They’re real people with a real need to eke out a real livelihood. So what have we given them in return? And what can still we do to improve their livelihood — and that of the rest of the underprivileged majority — to the extent that they would feel comfortable with abandoning their economic assets in favour of saving their life and limb should a similar event happen in the future?

Membuat tunik Abad Pertengahan

Tunik merupakan bentuk dasar sebagian besar busana pria di Eropa sejak abad ke-5 hingga sekitar pertengahan abad ke-14 Masehi. Untungnya, jenis busana ini relatif mudah dibuat dan tidak memerlukan keterampilan menjahit tingkat lanjut. Bagian-bagian dasar tunik pada umumnya berupa segiempat, segitiga, trapesium, atau bidang-bidang sederhana bersisi lurus lainnya. Rancangan seperti ini tidak hanya mudah direncanakan dan dipotong tetapi juga cukup menghemat kain. Sudah banyak petunjuk yang tersedia di Internet tentang cara membuat tunik seperti ini dalam bahasa Inggris, seperti tutorial SCA karangan Maggie Forest dan penggambaran Marc Carlson tentang berbagai potongan tunik yang berbeda, tetapi sepertinya masih belum banyak sumberdaya semacam ini dalam bahasa Indonesia. Semoga tulisan singkat ini dapat mengatasi kekurangan tersebut dan memberikan gambaran mendasar yang mudah diikuti tentang bentuk dan cara membuat/menjahit tunik dengan potongan yang relatif sederhana.

Perlu diingat bahwa rancangan/potongan tunik yang disajikan dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan tiruan sempurna dari artefak/temuan arkeologis tertentu, melainkan semacam gambaran umum yang menggabungkan unsur-unsur dari berbagai macam temuan (artefak) dan gambaran (ilustrasi) untuk menghasilkan rancangan yang tak terlihat janggal dari sudut pandang ketepatan sejarah tetapi mudah diterapkan dengan berbagai macam teknik dan alat menjahit yang tersedia di zaman modern ini.

Continue reading “Membuat tunik Abad Pertengahan”

Konsep awal silabus “ilmu pedang awam”

(English version here)

Sedikit latar belakang: pertama-tama, sebagian besar kegiatan HEMA saya berkutat dengan urusan mempelajari dan menafsirkan suatu aliran beladiri Eropa abad pertengahan yang dikenal sebagai aliran Liechtenauer, terutama beberapa glosa (penjelasan/penjabaran) yang ditulis oleh Sigmund Ringeck dan pseudo-Peter von Danzig. Saya sependapat dengan beberapa peneliti dan penggiat aliran Liechtenauer yang merasa bahwa glosa-glosa tersebut pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk mengajarkan ilmu pedang dari nol; sebaliknya, dalam kedua glosa ini tampaknya ada anggapan yang tersirat bahwa si pembaca sudah memiliki paling tidak sedikit latar belakang pengetahuan dan pengalaman ilmu pedang. Akibatnya, upaya kita untuk membangkitkan kembali aliran ini di masa kini memerlukan bahan-bahan perkenalan agar para pemula dapat mempelajari pemahaman dasar yang mereka perlukan untuk mempelajari naskah-naskah sumber secara langsung. Kedua, menurut perasaan saya, beberapa latihan terakhir di kelompok HEMA saya sudah mulai menjadi agak membosankan dan monoton, terutama karena saya sendiri sepertinya agak memaksa anggota-anggota lain untuk mempelajari terlalu banyak konsep dan jurus baru tanpa memberi kesempatan untuk menguji konsep-konsep dan jurus-jurus tersebut melalui bentuk-bentuk latihan yang tidak terpola (terkoreografi) secara kaku. Jadi, pada dasarnya saya sedang memikirkan cara untuk menyusun metode latihan yang lebih runtut dan lebih menyenangkan tanpa mengurangi nilai praktis sistem dan jurus yang kami pelajari, dan tulisan ini kurang-lebih merupakan potret sekilas tentang pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang sedang saya pertimbangkan.

(Catatan: Tulisan ini bukan merupakan penafsiran tentang jurus atau metode latihan pedang di masa lalu, melainkan silabus yang disusun sebagai usulan arah dan bahan pembelajaran untuk kelompok HEMA saya di masa kini.)

Continue reading “Konsep awal silabus “ilmu pedang awam””